> >

Pertama di Jateng, RSUP Kariadi Lakukan Tindakan Ablasi 3D

Jawa tengah dan diy | 26 Januari 2024, 14:03 WIB

SEMARANG, KOMPAS.TV - Tindakan ablasi tiga dimensi (3D) pertama kali di Jawa Tengah dilakukan oleh RSUP Dokter Kariadi Kota Semarang. Tindakan ablasi tersebut dilakukan pada pasien dengan kelainan iskemik ventrikular takikardia atau kondisi ketika bilik jantung berdetak terlalu cepat.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Aruman Yudanto Aribowo Binarso Mochtar SpJp (K), mengatakan, kelainan aritmia dengan denyut jantung cepat bisa dilakukan dengan ablasi dua dimensi. Namun, untuk beberapa kasus yang kompleks dan area jantung yang sulit untuk dipetakan tindakan ablasi di lakukan dengan 3 dimensi. Tindakan ablasi 3 dimensi ini dirasa lebih akurat dalam menentukan lokasi bilik atau ventrikelnya.

“Daerah di seluruh Jawa Tengah sekarang sudah banyak dokter spesialis jantung, jadi beliau sudah menangkap beberapa pasien yang indikasi untuk melakukan ablasi. Sehingga terus terang Rumah Sakit Dokter Kariadi juga meningkat dan akan semakin banyaknya ahli-ahli jantung di berbagai daerah sehingga dia tahu ini indikasi untuk dilakukan ablasi dikirimlah ke kita," dr. Aruman.

"Nanti saya dengan dr. Pipin yang menganalisis sehingga pada kasus yang lebih kompleks kita lakukannya tiga dimensi. Tapi pada kasus yang simpel itu kita bisa gunakan yang dua dimensi,” tambahnya.

Sementara itu, menurut dokter Pipin Ardhianto SpJP( K), penerapan ablasi tiga dimensi pada pasien di pandang lebih efektif dimana angka moralitas angka hospitalisasi dan angka stroke rate akan turun dibanding kan dengan cara pendekatan konvensional minum obat.

“Jadi fibrilasi atrium itu gangguan irama jantung menjadi tidak stabil atau tidak irregular. Harusnya irama jantung itu ketukannya seperti orang main drum, senar drum dipukul terus. Nah adanya fibrilasi atrium irama menjadi tidak teratur, ketukannya jadi tidak jelas, bahkan menjadi cenderung kencang. Walaupun pada beberapa kasus bisa menjadi lambat. Kondisi yang seperti itu sehingga paling berat atau konsekuensi ke depannya adalah terjadinya stroke. Penelitan terakhir itu mengatakan bahwa pasien apabila dilakukan pendekatan terapeutik dengan mengendalikan irama jantung yang tadi bermasalah. Salah satunya dengan teknik ablasi tiga dimensi itu angka mortalitas, angka hospitalisasi, angka strukrit itu akan jauh menurun,” jelas dr . Pipin.

Jumlah dokter di Indonesia yang mampu menangani penyakit aritmia hanya ada 50 orang. Dua diantaranya bertugas di RSUP Dokter Kariadi Kota Semarang.

#rsupkariadi #ablasi3d #semarang

Penulis : KompasTV-Jateng

Sumber : Kompas TV


TERBARU