> >

Dwijati, Proses Kelahiran Pendeta Hindu Bali

Berita daerah | 23 Maret 2022, 11:40 WIB

KLUNGKUNG, KOMPAS TV - Sudah menjadi keharusan bagi setiap manusia untuk bisa mampu menyucikan dirinya. Melalui perbuatan, hingga upakara. Seperti yang di lakukan oleh pasangan Ida Bagus Putu Swastika beserta istrinya, Ida Ayu Ngurah Sri Ekawati. Mereka kini telah siap untuk melepaskan ikatan duniawi melalui proses Padiksan Dwijati. Dengan diksa dwijati ini, nantinya mereka akan menjadi seorang sulinggih atau pemuka agama bagi umat Hindu – Bali.

Dalam lontar Siwa Sasana disebutkan, berbagai proses harus di lewati umat yang hendak melaksanakan upacara padwijatian ini. Diantaranya, mereka harus memiliki 3 guru suci atau nabe, masing masing nabe napak, nabe saksi, dan nabe waktra. Selain itu, calon sulinggih ini juga akan melewati proses yang tidak kalah sakralnya yakni prosesi seda raga. Seda raga adalah tahap mematikan semua sifat buruk di masa lalu, sebelum nantinya terlahir kembali menjadi seorang sulinggih. Setelah semua proses tersebut terlewati, barulah sang nabe akan melakukan prosesi metapak atau menurunkan ilmu bagi seseorang yang tengah menjalankan prosesi ini.

Bagi wangsa Keniten, prosesi metapak biasanya dilakukan dengan membasuh kaki sang guru suci atau nabe. Selanjutnya nabe akan memberi bekal, hingga memberi nama baru bagi sang sulinggih atau pemuka agama baru yang telah melewati berbagai proses dalam upacara dwijati.

Sama halnya dengan proses upacara besar dalam kepercayaan Hindu- Bali. Di dalam upacara diksa dwijati ini juga di tampilkan berbagai pertunjukan. Mulai dari wayang lemah, hingga tari topeng yang menceritakan perjalanan kehidupan manusia atau cerita - cerita yang berkaitan dengan upacara yang tengah dilaksanakan.

Setelah semua proses upacara diksa dwijati dilewati, sesuai dengan aturan keagamaan hingga aturan administrasi oleh PHDI, maka nama welaka atau sebelum melakukan upacara ini akan diubah. Kini Ida Bagus Putu Swastika beserta istrinya Ida Ayu Ngurah Sri Ekawati, telah menjadi seorang sulinggih dengan gelar Ida Pedande Gede Made Keniten Gelgel dan Ida Pedande Istri Ngurah Keniten Gelgel. Selanjutnya kedua sulinggih baru ini akan tetap melanjutkan proses meguron guron atau belajar kepada ketiga guru mereka, sebelum nantinya akan dilepas untuk mampu menyelesaikan sebuah tingkatan yadnya.

Menjadi seorang sulinggih sudah barang tentu mendapat tanggung jawab besar untuk mampu menyebarkan ajaran ajaran dharma, sehingga alam beserta isinya akan menjadi baik dan tentram. Dari pemujaan yang dilakukan seorang sulinggih setiap pagi, saat matahari mulai terbit, diharapkan mampu memberikan energi positif bagi alam semesta.

Setiap umat manusia yang menganut kepercayaan Hindu Bali, tentu akan melakukan proses padwijatian. Namun beberapa orang saja yang terpilih dan siap untuk melepaskan ikatan keduniawia. Mereka inilah yang akan melakukan padwijatian dimasa hidupnya. Sisanya akan melakukan proses itu saat sudah meninggal, yakni pada prosesi pengabenan. Hal itu untuk mampu melepaskan roh dari ikatan duniawian ke alam sunia dalam keadaan bersih.

Indonesia, khususnya Bali memang terkenal dengan kearifan lokal dan budayanya yang adi luhung. Terlihat dari kehidupan masyarakatnya yang tetap memegang teguh nilai nilai tersebut. Sebagai generasi saat ini patutlah kita turut menjaga dan mewariskannya bagi para generasi kelak .

 

 

 

 

#diksadwijati #kenitengelgel #klungkung

 

Penulis : KompasTV-Dewata

Sumber : Kompas TV


TERBARU