> >

Syarat Lockdown Akhir Pekan Bisa Efektif dari Kacamata Epidemiolog UGM

Berita daerah | 5 Februari 2021, 10:53 WIB
Ilustrasi: Epidemiolog UGM angkat bicara soal rencanan penerapan lockdown akhir pekan yang akan diterapkan di DKI Jakarta (Sumber: KOMPAS.COM)

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV-Epidemiolog UGM, Bayu Satria, angkat bicara soal rencanan penerapan lockdown akhir pekan yang akan diterapkan di DKI Jakarta. Tidak ketinggalan, kebijakan lockdown akhir pekan lewat gerakan Jateng di Rumah Saja juga akan diterapkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Langkah pengetatan meliputi penutupan car free day, penutupan jalan, penutupan toko, mal, dan pasar, penutupan destinasi wisata dan pusat rekreasi, serta pembatasan kegiatan yang memunculkan potensi kerumuman, sementara sektor esensial seperti kesehatan tetap beroperasi seperti biasa.

Ia menilai lockdown yang bertujuan untuk membatasi mobilitas orang harus diikuti dengan pengawasan serta penguatan tracing, testing, dan treatment (3T).

Baca Juga: Pemprov DKI Belum Putuskan Usul Anggota Dewan Soal Lockdown Akhir Pekan

“Kalau lockdown akhir pekan mau berhasil 3T juga harus diperkuat, kalau hanya satu sisi percuma karena tidak memberi hasil signifikan,” ujarnya, Jumat (5/2/2021).

Ia menuturkan lockdown akan efektif bukan dilihat dari durasinya, melainkan dilihat dari pelaksanaan di lapangan. Penerapan yang ketat serta ditunjang dengan 3T yang masif dan bisa melibatkan relawan.

“Idealnya, pembatasan dilakukan dalam durasi 14 hari mengikuti masa inkubasi virus. Namun hal ini menurutnya juga perlu mempertimbangkan sejumlah aspek, terutama dari sisi ekonomi,” ucapnya.

Baca Juga: Jakarta Lockdown Akhir Pekan, Epidemiolog: Bisa Menambah Efektivitas PSBB

Bayu berpendapat kebijakan pengetatan dan pelonggaran kegiatan masyarakat, seperti lockdown akhir pekan, perlu disesuaikan dengan kondisi daerah.

Penulis : Switzy-Sabandar

Sumber : Kompas TV


TERBARU