> >

Publik Salah Persepsi, Diksi "New Normal" Tidak Sesuai Keinginan Pemerintah

Berita kompas tv | 12 Juli 2020, 19:38 WIB

KOMPAS.TV - Belakangan, pemerintah mengakui, bahwa ada yang salah dengan penggunaan diksi "new normal", atau tatanan normal baru, yang dipersepsi publik tidak sesuai dengan yang diinginkan pemerintah.

Katanya, diksi new normal itu sebenarnya di awal diksi itu segera diubah.

Waktu social distancing itu diksi yang salah, dikritik langsung kita ubah.

New normal itu diksi yang salah, kemudian kita ubah adaptasi kebiasaan baru, tapi echo-nya nggak pernah berhenti.

Achmad Yuri juga mengakui, dari istilah new normal, pemahaman masyarakat jadi salah kaprah.

Alih-alih berfokus pada kata "new" yang merujuk pada tata cara hidup baru, warga justru lebih fokus pada kata normal, sehingga berperilaku seolah hidup sudah kembali seperti semula, tanpa berpikir panjang soal risiko pandemi.

Komunikasi semacam inilah yang harus segera dievaluasi dan diperbaiki pemerintah.

Sulit meminta masyarakat disiplin protokol kesehatan, kalau cara berkomunikasi tidak tepat.

Sulit pula meminta masyarakat paham tingginya risiko Covid-19, ketika komunikasi krisis yang dijalankan kurang mencerminkan pemahaman risiko yang besar dari pemerintah.

Jajaran pemerintah juga mesti jadi suri teladan bagi masyarakat., kalau bisa meminta masyarakat untuk selalu tertib mengenakan masker dengan baik dan menjaga jarak ketika ada di ruang publik, jajaran pemerintah juga wajib memberi contoh.

Berhenti cari alasan dan pembenaran untuk disiplin protokol kesehatan,

Penulis : Aleksandra-Nugroho

Sumber : Kompas TV


TERBARU