> >

Yenny Wahid: Kebebasan Pendapat Adalah Buah Reformasi

Sapa indonesia | 19 Juni 2020, 02:10 WIB

KOMPAS.TV - Kritik netizen di media sosial atas sejumlah isu sosial jadi sorotan. Meski disampaikan dengan gaya humor, dapat berujung pada perundungan di media sosial hingga klarifikasi seorang netizen pada pihak kepolisian.

Apa yang terjadi dengan kebebasan berekspresi di negeri yang menjunjung tinggi demokrasi ini?

Lelucon Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, soal polisi jujur membuat seorang pria di Sula, Maluku Utara, sempat berurusan dengan penegak hukum.

Gus Dur menyebut hanya ada tiga polisi yang jujur, yakni Pak Hoegeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi, dan polisi tidur.

Kutipan humor itulah yang kemudian diunggah di medsos oleh Ismail Ahmad di akun Facebook-nya.

Selain itu, yang juga sempat ramai di medsos adalah kritikan bergaya humor yang disampaikan komika Bintang Emon.

Bintang Emon mengkritik ringannya tuntutan pada para terdakwa penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Tak lama usai videonya diunggah, Bintang Emon mendapat serangan balik melalui media sosial.

Kritikan yang ada di media sosial tanpa unsur ujaran kebencian dan tindakan kekerasan harusnya disikapi dengan bijak.

Sebab, jika ruang ekspresi dihambat atau dibungkam, bisa membuat demokrasi Indonesia mengalami kemunduran.

Jangan lewatkan streaming Kompas TV live 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live agar tidak ketinggalan berita-berita terkini, terlengkap, serta laporan langsung dari berbagai daerah di Indonesia.

Penulis : Christandi-Dimas

Sumber : Kompas TV


TERBARU