> >

Pemerintah Awasi Kegiatan Mudik Lokal, Kadishub DKI: Ada 31 Titik Pengawasan di Jabodetabek

Sapa indonesia | 9 Mei 2021, 00:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.TV - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini sedang mengantisipasi potensi lonjakan kerumunan orang, lewat kegiatan mudik lokal, ke sejumlah wilayah aglomerasi, sekitar ibu kota

Seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Bagaimana koordinasi Pemprov DKI Jakarta dengan Pemerintah Daerah penyangga Ibu Kota?

Apakah pengetatan mudik lokal di kawasan Jabodetabek punya dampak signifikan untuk menekan angka penularan covid-19 selama musim mudik lebaran tahun ini?

Pemerintah pusat melarang mudik dilakukan di masa pandemi covid-19 ini.

Mudik lokal, alias mudik aglomerasi juga dilarang.

Juru bicara satgas penanganan covid 19, Wiku Adisasmito menyebut, pelarangan bertujuan untuk memaksimalkan upaya pencegahan terjadinya penyebaran virus akibat pergerakan masyarakat.

Setelah ada larangan mudik ini, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mempersilakan warga Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi yang bekerja di Jakarta untuk mengurus surat tugas di perusahaannya masing-masing.

Sementara surat izin keluar masuk, SIKM, untuk kepentingan keluarga harus diurus di kelurahan.

Meski sudah ada larangan, masih banyak warga yang menggunakan berbagai cara untuk bisa mudik.

Sebuah video yang viral di medsos menunjukkan jebolnya posko penyekatan pemudik di Jalur Arteri Karawang, Jawa Barat.

Namun Kapolda Jawa Barat, Irjen Ahmad Dofiri menyebut petugas di lapangan bukan membiarkan pemudik motor lolos, namun sebagai upaya mengurai kepadatan di satu titik.

Sementara itu, seorang sopir travel gelap mengamuk pada petugas di titik penyekatan gerbang tol Cikampek, Purwakarta,

Polisi memberhentikan travel gelap itu karena terbukti membawa penumpang yang hendak mudik.

Sopir tak terima kendaraannya diputar balik.

Di Semarang, Jawa Tengah, polisi menahan satu travel gelap yang membawa enam penumpang tujuan Jepara.

Untuk mengelabui petugas, para penumpang sebelumnya diturunkan di salah satu rumah makan dan kemudian diangkut menggunakan mobil yang berbeda, dengan sistem estafet.

Penulis : Dea-Davina

Sumber : Kompas TV


TERBARU