> >

Adi Saputra Ceritakan Pengalaman Mengantar Jenazah Korban Mutilasi ke Rumah Duka

Peristiwa | 22 September 2020, 04:32 WIB
Adi Saputra saat mengantar jenazah korban mutilasi Rinaldi Harley Wismanu ke rumah duka di Sleman, DIY. (Sumber: Tribunjogja.com/Miftahul Huda)

SLEMAN, KOMPAS.TV – Menjadi supir pengantar jenazah, bukanlah sebuah profesi yang jamak untuk dipilih. Namun inilah profesi yang dijalani oleh Adi Saputra sehari-hari. Pekerjaan yang dilakoninya ini tentu membutuhkan nyali yang besar, terutama ketika dia ditugaskan untuk menjadi supir pengantar jenazah Rinaldi Harley Wismanu yang merupakan korban mutilasi.

Adi menceritakan, dia ditugaskan untuk mengantar jenazah Rinaldi dari Jakarta ke Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ia memulai perjalanan dari Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta pukul 16.30 WIB. Perjalanan ini dilakukannya tanpa pengawalan dari Kepolisian. Mobil jenazah yang dikendarainya hanya didampingi dua mobil yang dinaiki keluarga.

Sekitar tengah malam, jenazah Rinaldi yang diantarkannya, tiba di rumah duka di Sleman. Adi mengaku, meskipun pengantaran jenazah sebagian besar dilakukan ketika hari telah beranjak malam, namun semua berjalan lancar dan tanpa kendala. Dia sempat berhenti di area peristirahatan di daerah Brebes, Jawa Tengah.

"Sempat berhenti di Brebes. Hanya istirahat dan salat. Setelah itu lanjut lagi dan tidak ada halangan," ungkapnya seperti dikutip dari Tribunnews.com.

Adi mengaku, selama bekerja menjadi supir mobil jenazah, pihaknya tidak pernah mendapati pengalaman buruk yang seperti kebanyakan orang khawatirkan.

"Tidak ada. Itu kan sugesti saja, kalau orang itu berani ya pasti gak ada gangguan apa pun," kata dia.

Namun menurutnya, kesedihan kerap dirasakannya ketika melihat anggota keluarga jenazah yang diantarkannya, disambut oleh keluarga. “Sedih kalau melihat keluarga menyambut jenazah dengan penuh duka,” ujarnya.

Selama menjadi pengemudi mobil jenazah, jarak paling jauh yang pernah ditempuh Adi adalah membawa jenazah dari Jakarta ke Bali. Ia pun menjelaskan, mekanisme pengantaran jenazah korban pembunuhan yakni menunggu arahan dari bagian Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis), yaitu satuan kerja yang berada di bawah Badan Reserse Kriminal (Bareskrim)  Polri.

Setelah semua proses otopsi selesai, jenazah kemudian disiapkan untuk pemberangkatan ke rumah duka. Saat ditanya bagaimana dengan nasib jenazah yang tidak memiliki keluarga, dirinya belum mengetahui proses pengurusannya.

"Kalau itu tim Inafis yang tahu. Saya hanya pengantar jenazah saja," pungkasnya.

Penulis : Tussie-Ayu

Sumber : Kompas TV

Tag

TERBARU