> >

Tak Balas Serangan Rudal, Donald Trump: Amerika Serikat Siap Kumandangkan Perdamaian

Cerita indonesia | 9 Januari 2020, 16:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.TV – Tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran sedikit menurun setelah Presiden AS Donald Trump, mengeluarkan pernyataan untuk menarik diri dari peluang perang dengan Iran. Pernyataan ini disampaikan Trump dalam konferensi pers Rabu, (8/1/2020), sore waktu setempat setelah markas pasukan AS diserang rudal. Dilansir dari Kompas.com, pada Rabu dini hari waktu Irak, Teheran membombardir Pangkalan Udara Ain al-Assad dan Irbil, markas bagi koalisi internasional. Garda Revolusi Iran menyatakan, mereka menghantam markas itu setelah AS membunuh jenderal tertinggi mereka, Qasem Soleimani. 

Presiden Trump menyatakan mundur dari kemungkinan terjadinya perang dengan tak mengumumkan operasi balasan. Presiden 73 tahun itu mengatakan, tidak ada pasukan AS yang terluka akibat hantaman rudal balistik di Ain al-Assad dan Irbil. 

"Iran nampaknya memilih untuk mundur, di mana hal itu bagus bagi semua pihak," katanya seperti dilansir AFP dan BBC. 

Dia kemudian menambahkan, konfrontasi kedua belah pihak bisa dicegah dengan kekuatan ekonomi dan militer yang dipunyai AS. "Fakta bahwa kami mempunyai peralatan militer yang mumpuni, bukan berarti kami harus menggunakannya," ujar Trump.

Baca Juga: Iran VS Amerika Serikat: Trump Ancam Hancurkan 52 Wilayah di Iran

Dia menjelaskan bakal segera memberi sanksi tambahan di sektor ekonomi dan finansial, hingga rezim Teheran "mengubah perilakunya". Dia juga meminta aliansi Atlantik Utara (NATO) untuk lebih aktif berpartisipasi dalam mengawasi proses di Timur Tengah. Presiden dari Partai Republik itu kemudian mengakhiri konferensi pers dengan menyatakan, dia ingin masa depan yang baik rakyat Iran. 

"Amerika Serikat siap untuk mengumandangkan perdamaian dengan semua pihak yang menginginkannya," jelas Trump dikutip CBS News. 

Sebelumnya, Divisi Dirgantara Garda Revolusi Iran menamai operasi itu "Martir Soleimani", sesuai dengan Qasem Soleimani. Komandan Pasukan Quds itu tewas bersama dengan wakil pemimpin jaringan milisi pro-Teheran Hashed al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis. Keduanya terbunuh pada 3 Januari setelah mobil yang mereka tumpangi dihantam rudal oleh drone AS di Baghdad, Irak. Pentagon menyatakan, mereka harus melenyapkan jenderal 62 tahun itu. Sebab, dia dianggap aktif merencanakan serangan terhadap kepentingan AS di Timur Tengah. Para pakar mengutarakan, keputusan Teheran mengklaim secara langsung serangan di markas pasukan AS adalah hal baru. Sebab sebelumnya, mereka dianggap menyamarkan operasi militer menggunakan kelompok milisi yang mendapat sokongan dari mereka.

#iranas #iran #amerikaserikat #donaldtrump 

Penulis : Laura-Elvina

Sumber : Kompas TV


TERBARU