> >

Asal-usul Semboyan Korps Kapal Selam: Wira Ananta Rudira, Tabah Sampai Akhir

Sinau | 26 April 2021, 16:58 WIB

KOMPAS.TV - Kapal selam KRI Nanggala 402 yang hilang di perairan utara Bali dinyatakan tenggelam, dan seluruh awak kapal dinyatakan gugur dalam bertugas.

Masyarakat Indonesia mengantar kepergian 53 awak kapal KRI Nanggala 402 dengan semboyan Wira Ananta Rudira.

Wira Ananta Rudira adalah semboyan Korps Kapal Selam yang berarti “Tabah Sampai Akhir”.

Semboyan ini diusulkan oleh Laksma TNI (Purn) RP Poernomo. Ia pernah menjabat sebagai Komandan Sekolah Kapal Selam pertama pada 1959.

Dalam buku 50 Tahun Pengabdian Hiu Kencana 1959-2009 disebutkan bahwa Poernomo mendapatkan satu kata yang dapat mewakili semua sifat korps kapal selam, yaitu tabah. 

Makna tabah menurut Poernomo adalah:

Tidak akan takut karena berani,
Tidak akan menyerah karena ulet,
Tidak akan terburu-buru karena sabar,
Tidak akan kehilangan karena tenang,
Tidak akan mundur karena teguh.

Sekadar tabah tidak cukup jika tidak kekal. Poernomo menganggap pengabdian para awak harus sampai akhir, Tabah Sampai Akhir.

Semboyan ini akhirnya dipilih sebagai moto Korps Hiu Kencana sejak 16 Maret 1961, dan diabadikan di prasasti Monumen Kapal Selam Surabaya.

Semboyan ini juga pernah digaungkan Presiden Soekarno dalam pidatonya di atas kapal selam KRI Tjandrasa pada tahun 1966 di dermaga Tanjung Priok, Jakarta, yang berbunyi:

”Sekali menyelam, maju terus, tiada jalan untuk timbul sebelum menang. Tabah Sampai Akhir.”

Dalam konferensi pers yang digelar Minggu (25/4/2021), Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono menyatakan, kondisi kapal KRI Nanggala 402 terbelah menjadi tiga bagian.

Serpihan badan kapal selam KRI Nanggala 402 ditemukan di kedalaman 838 meter melalui pantauan alat ROV dari Singapura.(*)

Grafis: Arief Rahman

Penulis : Gempita-Surya

Sumber : Kompas TV


TERBARU