> >

Hentikan Bisnis di Rusia, Mercedes-Benz Khawatir Asetnya Diambil Putin

Krisis rusia ukraina | 14 Maret 2022, 13:38 WIB
Logo Mercedes-Benz (Sumber: AFP)

NEW YORK, KOMPAS.TV - Presiden Rusia Vladimir Putin mengancam akan menasionalisasi perusahaan asing yang menutup operasinya karena alasan invasi ke Ukraina. Langkah itu membuat khawatir perusahaan otomotif asal Jerman, Mercedes-Benz, lantaran perusahaan itu memiliki investasi besar di Rusia.

Mengutip dari AFP, Senin (14/3/2022), Mercedes-Benz memiliki anak perusahaan yang beroperasi di Rusia, dengan total asset sebesar 2,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp31,5 triliun. Jika anak usaha itu diambil Putin, perusahaan bisa rugi besar.

Dalam laporan tahunannya, Mercedes-Benz menyebut invasi Rusia ke Ukraina telah menyebabkan risiko pada bisnis mereka. Yaitu gangguan komponen, suplai energi, hingga serangan siber.

"Risiko ini dapat semakin buruk dari potensi pengambilalihan aset anak perusahaan di Rusia," kata manajemen Mercedes Benz. 

Baca Juga: Eropa dan AS Siapkan Sanksi Baru, Rusia Akan Setara Korut dan Iran

Mercedes-Benz membangun pabrik mobil di kota Esipovo, 40 kilometer arah barat laut dari Moskow. Pabrik yang memproduksi sedan seri E-Class dan beberapa jenis SUV itu memiliki 1.000 karyawan. Pabrik tersebut dibuka pada 2019 dan peresmiannya dihadiri Vladimir Putin.

Pabrik Mercy di Esipovo itu adalah investasi asing pertama di Rusia dalam beberapa tahun terakhir. Yaitu sejak Rusia dikenai sanksi negara barat sebelum-sebelumnya. 

Baca Juga: Pengakuan Tentara Rusia yang Ditawan Ukraina, Pasukan Kematian Putin Bunuh Prajurit yang Ingin Kabur

Tindakan nasionalisasi aset perusahan asing oleh pemerintaha Vladimir Putin, sebelumnya dikritik oleh mantan wakil perdana Menteri yang juga pengusaha terkaya di Rusia, Vladimir Potanin. Ia menyebut tindakan Putin itu bisa membawa Rusia mundur 100 tahun. 

Yakni pada 1917 saat Revolusi Bolshevik yang menggulingkan Tsar Nicholas II terjadi di Rusia. Potamin mengatakan saat itu investor enggan masuk ke Rusia karena kondisi sosial politik yang tidak stabil.

Penulis : Dina Karina Editor : Desy-Afrianti

Sumber :


TERBARU