> >

Iran Sebut Negosiasi Nuklir di Wina 'Progresif' meski Ada Kesulitan

Kompas dunia | 21 April 2021, 19:41 WIB
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi tiba di lokasi negosiasi kesepakatan nuklir Iran di Wina, Austria, pada 6 April 2021. (Sumber: Xinhua/Georges Schneider)

TEHERAN, KOMPAS.TV - Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, pada Selasa (20/4) mengatakan putaran terakhir negosiasi di Wina "progresif" terlepas dari "kesulitan yang ada."

Upaya diplomatik lanjutan di Wina digelar guna memulihkan kesepakatan nuklir 2015, dengan pencabutan sanksi dan isu nuklir menjadi agenda utama. 

Kesepakatan nuklir 2015 itu dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA).

Usai berdiskusi dengan perwakilan dari pihak penandatangan JCPOA lainnya, yakni Inggris, China, Prancis, Rusia dan Jerman, Araqchi menyebut Teheran akan menghentikan negosiasi setiap kali pembicaraan mengarah pada "tuntutan yang berlebihan, membuang-buang waktu dan tawar-menawar yang tidak rasional."

"Kemajuan telah dicapai selama dua pekan terakhir. Namun, dibutuhkan lebih banyak kerja keras. Kelompok ahli dari pihak ketiga juga sudah dibentuk untuk mengatasi serangkaian masalah," ucap Enrique Mora, wakil sekretaris jenderal dan direktur politik European External Action Service, yang memimpin pertemuan pada Selasa tersebut.

Baca Juga: Menlu Retno dan Menlu Iran Bertemu Bahas 3 Isu Penting

Presiden Iran Hassan Rouhani saat menghadiri pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Teheran, Iran pada Selasa (13/4/2021). (Sumber: Layanan Pers Kementerian Luar Negeri Rusia via AP)

Sebelumnya, dua kelompok kerja tingkat ahli masing-masing juga telah mengupayakan soal implementasi nuklir dan pencabutan sanksi.

"Menurut saya, diplomasi adalah satu-satunya jalan bagi #JCPOA untuk mengatasi berbagai tantangan yang sedang berlangsung saat ini," tambah Mora.

Iran secara bertahap menghentikan sebagian dari komitmennya pada Mei 2019, setahun setelah pemerintahan mantan presiden AS Donald Trump secara sepihak meninggalkan perjanjian tersebut dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Eddward-S-Kennedy

Sumber : Kompas TV


TERBARU