> >

Sri Mulyani Sebut Perang Rusia-Ukraina Jadi Tantangan Pertumbuhan Ekonomi 2022

Ekonomi dan bisnis | 11 Mei 2022, 07:16 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam Program B-Talk di Kompas TV (10/5/2022). (Sumber: Tangkapan layar Kompas TV)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, perang Rusia-Ukraina menjadi tantangan baru bagi pertumbuban ekonomi nasional. Pemerintah pun mewaspadai dan menyiapkan berbagai strategi.

"Perang yang terjadi di Ukraina menimbulkan spillover dan rambatan yang sangat banyak dan pelik, seperti disrupsi supply chain dan kenaikan harga komoditas, dan ini memunculkan tantangan lebih rumit," kata Sri Mulyani dalam Program Business Talk di KOMPAS TV, Selasa (10/5/2022).

Ia menjelaskan, pada tahun 2020 dan 2021 yang menjadi tantangan ekonomi adalah pandemi Covid. Namun tahun ini, konflik geopolitik Rusia-Ukraina yang menjadi tantangannya. Bukan hanya berdampak pada Indonesia, tapi juga negara-negara lainnya.

Baca Juga: Airlangga Sebut Pertumbuhan Ekonomi RI Lebih Tinggi Dari Cina Hingga AS

Misalnya Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa, tingkat inflasi mereka telah mencapai 5,7 persen hingga 8 persen. Sri Mulyani memperkirakan, mereka akan merespons kondisi ekonomi sekarang dengan melakukan pengetatan moneter.

"Kenaikan inflasi dan suku bunga di sana tentu akan melemahkan perekonomian negara-negara berkembang. Jadi tantangan di 2022 berbeda dengan sebelumnya," ujar Sri Mulyani.

Salah satu strategi pemerintah untuk meredam dampak krisis Rusia-Ukraina, adalah dengan menjaga momentum pemulihan daya beli masyarakat. Pasalnya pada kuartal I 2022, sumbangan konsumsi rumah tangga terhadap perekonomian belum mencapai harapan pemerintah.

Baca Juga: Presiden Jokowi Transit Dua Jam di Amsterdam, Hari Ini Tiba di Washington

"Kami harap konsumsi masyarakat dapat tumbuh lebih tinggi dan dari sisi belanja pemerintah kita harus sangat kecil kontraksinya," tuturnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2022 capai 5,01 persen year on year dengan konsumsi rumah tangga tumbuh 4,34 persen year on year dan konsumsi pemerintah terkontraksi atau turun 7,74 persen year on year.

Penulis : Dina Karina Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV


TERBARU