HARIAN KOMPAS KOMPAS.COM KOMPASIANA.COM TRIBUNNEWS.COM KONTAN.CO.ID BOLASPORT.COM GRID.ID GRIDOTO.COM GRAMEDIA.COM KGMEDIA.ID
Kompas TV nasional berita kompas tv

Deteksi Virus Corona, Lebih Akurat PCR Atau Rapid Test?

Kamis, 9 April 2020 | 15:00 WIB

JAKARTA, KOMPASTV - Alat-alat yang baru tiba ini menjadi harapan baru untuk meningkatkan kapasitas deteksi covid-19 di tanah air sesuai standar WHO.

Dari Swiss, Kementerian BUMN mendatangkan 18 alat PCR dan 2 mesin ekstraktor RNA otomatis yang bisa mendeteksi virus corona baru dalam spesimen tes swab tenggorok dengan cepat dan massif.

Alat-alat yang berguna untuk mendiagnosis pasien terkait covid-19 dalam skala molekuler ini nantinya akan dikirim ke 11 provinsi lain selain Jakarta. Antara lain, seluruh provinsi di Jawa, Bali, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua.

Jika sudah terpasang dengan baik, Indonesia bisa memiliki kapasitas tes hingga sepuluh ribu spesimen per hari.

Meski demikian perakitan alat ini membutuhkan waktu dan kehati-hatian yang sangat tinggi. Selain harus dipasang dalam ruangan dengan tekanan negatif, penggunanya juga masih harus mendapat pelatihan khusus.

Selain mendatangkan alat PCR dan mesin ekstraktor RNA dari Swiss Indonesia juga mendapatkan bantuan dari Korea Selatan.

Sebagai negara yang dinilai paling sukses menghadapi wabah covid-19 dengan kapasitas deteksinya yang paling tinggi sedunia, Korea menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari tiga negara yang menjadi sasaran prioritas pengiriman bantuan alat PCR kit atau reagen tes virus corona untuk lima puluh ribu specimen.

Dibanding alat rapid test atau tes cepat, deteksi virus corona dengan tes swab dan metode PCR adalah standar diagnosis terbaik yang ditetapkan oleh organisasi kesehatan dunia atau WHO.

Tingkat akurasi tes cepat atau rapid test dengan sampel darah yang menguji keberadaan antibodi terhadap virus di dalam tubuh tidak setinggi akurasi dengan metode PCR. Pasalnya, tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa memproduksi antibodi sehingga seorang pasien yang terinfeksi corona tetapi masih di fase awal belum tentu bisa terdeteksi lewat tes cepat.
 

Editor : edika ipelona



BERITA LAINNYA

Close Ads x
NEWSTICKER
00:41
KPU PREDIKSI BIAYA PILKADA 2020 MENINGKAT JIKA DIGELAR DI MASA PANDEMI COVID-19   HINDARI KERUMUNAN MASSA, KPAI SARANKAN PELAKSANAAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU DILAKUKAN SECARA DARING   KETUA KOMISI X DPR SYAIFUL HUDA TOLAK WACANA PEMBUKAAN SEKOLAH DI ZONA MERAH PENYEBARAN VIRUS KORONA   WALI KOTA BEKASI IZINKAN WARGA YANG TINGGAL DI ZONA HIJAU COVID-19 SHALAT JUMAT DI MASJID MULAI PEKAN DEPAN   PEMKOT JAKARTA BARAT FUNGSIKAN MASJID KH HASYIM ASYARI UNTUK ISOLASI PEMUDIK YANG BALIK KE JAKARTA   YLKI TOLAK RENCANA PEMBUKAAN MAL DI DKI JAKARTA PADA 5 JUNI 2020   PSBB DIPERPANJANG, PEMKOT BOGOR PERKETAT PROTOKOL KESEHATAN DAN ARUS KELUAR MASUK   POLDA SUMATERA BARAT SIAPKAN 6.000 PERSONEL UNTUK DUKUNG KEBIJAKAN KENORMALAN BARU   MENTERI PUPR MINTA BADAN PENGEMBANGAN SDM SIAPKAN MODUL “E-LEARNING” DI ERA KENORMALAN BARU   TIDAK PERPANJANG PSBB, PEMKOT MALANG SIAPKAN SKEMA KENORMALAN BARU   PEMKOT SOLO PERPANJANG STATUS KEJADIAN LUAR BIASA VIRUS KORONA HINGGA 7 JUNI 2020   GUBERNUR JATENG AKAN BERI MODAL DAN PELATIHAN KERJA UNTUK WARGA YANG TAK KEMBALI KE JAKARTA   GUBERNUR JATENG GANJAR PRANOWO LARANG WARGA YANG TERLANJUR MUDIK UNTUK KEMBALI KE JAKARTA   GUGUS TUGAS COVID-19: WARGA YANG AKAN KEMBALI KE JAKARTA HARUS UNDUH APLIKASI BERSATU LAWAN COVID (BLC)