Kompas TV pendidikan sekolah

Desember Bulan Kelahiran Dewi Sartika, Sang Pelopor Pendidikan Kaum Perempuan

Senin, 5 Desember 2022 | 07:20 WIB
desember-bulan-kelahiran-dewi-sartika-sang-pelopor-pendidikan-kaum-perempuan
Suasana di Sekola Keutamaan Isteri Bandung. Dewi Sartika adalah tokoh perempuan yang memperjuangkan pendidikan bagi para perempuan pribumi, ketika kolonialisme Belanda sedang mencengkeram tanah air. (Sumber: Kumeok Memeh Dipacok)
Penulis : Iman Firdaus | Editor : Edy A. Putra

JAKARTA, KOMPAS.TV - Dewi Sartika adalah tokoh perempuan yang memperjuangkan pendidikan bagi para perempuan pribumi, ketika kolonialisme Belanda sedang mencengkeram tanah air.

Ia lahir pada 4 Desember 1884 di Cicalengka, Jawa Barat, dari keluarga menak (bangsawan) Sunda.

Ayahnya, Rangga Somanegara, dan ibunya, Raden Ayu Rajapermas, merupakan pasangan darah biru tanah Sunda.

Kakek dari pihak ibu, R.a. Wiranatakusumah IV merupakan Bupati Bandung (1846-1874).

Sebagai anak bangsawan, Dewi Sartika punya keistimewaan belajar di sekolah khusus para anak bangsawan yaitu Eerste Klasse Indlandsche School.

Namun dia juga diajarkan oleh pamannya, terutama tentang adat dan tradisi Sunda, untuk mengimbangi pelajaran bahasa Belanda di sekolah.

Ketika berusia 10 tahun, Dewi Sartika sudah mengajar anak-anak perempuan sebayanya baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda.

Kala itu, kepatihan dibuat heboh. Sebab waktu itu belum banyak anak (apalagi anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan pula.

Baca Juga: Warga Dewi Sartika Saling Serang dengan Sajam dan Bom

Rupanya, bakat mengajar Dewi Sartika mulai tumbuh. Keinginan untuk mendirikan sekolah pun makin kuat ketika sang kakek, R.A.A.Martanegara, dan Den Hamer yang menjabat sebagai Inspektur Kantor Pengajaran ketika itu, mendukung pendirian sekolah pada 1904.

Dewi Sartika berhasil mendirikan sebuah sekolah yang dinamainya “Sekolah Isteri”. Pada tahun 1910, sekolah itu berganti nama menjadi "Sakola Kautamaan Isteri" yang mengambil tempat di pendopo kabupaten.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan khusus perempuan, sekolah ini bisa disebut yang pertama di Indonesia, yang kala itu masih bernama Hindia Belanda.  

Ketika sekolah pertama dibuka, muridnya 60 orang dengan 3 guru. Pelajaran yang diajarkan seperti merenda, merancang pakaian, dan tata krama pergaulan (sopan santun). 

Namun di awal pendiriannya, banyak pihak yang mempergunjingkan Dewi Sartika, termasuk dari kalangan bangsawan sendiri.

Dalam catatan yang diterbitkan dalam bentuk buku berbahasa Sunda, "Kautamaan Isteri",  Dewi Sartika sendiri mengeluhkan keadaan tersebut. 

"Pada masa 3-4 tahun menjadi guru tak henti-hentinya penulis dipergunjingkan orang sehingga telinga terasa panas sekali akibat cemoohan orang yang mengatakan macam-macam. Misalnya, merendahkan martabat orang tua karena seperti tidak diberi bantuan atau tidak diurus saja," katanya.

Ada juga yang menggunjing bahwa tak pantas perempuan bumiputera jadi guru.

Namun Dewi Sartika pantang mundur. Dia terus dengan gagasannya. Hasilnya memang tidak mengecewakan. Sekolah yang dia rintis terus berkembang dan menerima banyak murid.

Dalam catatannya, dia mengatakan, bahwa untuk menjadi bangsa maju, maka perempuannya harus pintar. 

"Sebab kaum wanita itu akan menjadi ibu. Merekalah yang paling dahulu mengajarkan pengetahuan kepada manusia, yaitu kepada anak-anak mereka, baik laki-laki maupun perempuan," tulisnya.         

Hingga pada tahun 1912, sudah ada sembilan sekolah yang tersebar di seluruh Jawa Barat, lalu kemudian berkembang menjadi satu sekolah tiap kota maupun kabupaten pada tahun 1920.

Pada September 1929, sekolah tersebut berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi.

Dewi Sartika meninggal dunia pada 11 September 1947 di Tasikmalaya, Jawa Barat, dalam suasana republik sedang tidak stabil karena pergolakan pascakemerdekaan.

Baca Juga: Data Dampak Gempa Pemkab Garut: Empat Rumah dan Satu Sekolah Rusak

Dia dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon di Desa Rahayu, Kecamatan Cineam, Tasikmalaya.

Namun tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.

Berkat jasanya yang besar, Dewi Sartika ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1966.



 


Sumber : Kompas TV

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.


BERITA LAINNYA


Close Ads x