Kompas TV kolom opini

Indonesia di Puncak Dunia dan Peran-Peran di G20

Kamis, 17 November 2022 | 06:50 WIB
indonesia-di-puncak-dunia-dan-peran-peran-di-g20
Presiden Joko Widodo berbicara dalam sesi 3 pertemuan KTT G20 di Nusa Dua, Bali. (Sumber: ANTARA PHOTO/FIKRI YUSUF/FR)
Penulis : Redaksi Kompas TV | Editor : Hariyanto Kurniawan

Oleh: Trias Kuncahyono

KETIKA acara puncak KTT G20 digelar di Bali, 15 - 16 November 2022 ini, saat itulah Indonesia ada di puncak dunia. Indonesia bagaikan dian di atas gantang, yang sinarnya menerangi dan menyapu kegelapan wilayah sekitarnya.

Indonesia menjadi fokus perhatian dunia yang sedang tidak sehat karena berbagai "penyakit": akibat pandemi Covid-19, krisis pangan, dan energi akibat perang Ukraina, resesi ekonomi, perpecahan geopolitik yang semakin kentara, dan juga persaingan keras di kawasan Indo-Pasifik.

Maka tidak berlebihan kalau beberapa waktu lalu, dalam sebuah percakapan pendek Menlu Retno Marsudi mengatakan, betapa sulitnya mengadakan KTT di tengah situasi geopolitik yang begitu berat. Katanya, “Ini mungkin yang paling sulit dari semua G20."

Situasi Krisis

Situasi saat ini, mengingatkan situasi dunia tatkala G20 dilahirkan. Ada situasi yang agak sama antara saat KTT G20 dilaksanakan di Bali dan kala G20 dilahirkan, sebagai "kelanjutan" G7. Keduanya terjadi pada saat krisis ekonomi melanda dunia.

Kelompok Tujuh (G7) -AS, Italia, Inggris, Jepang, Jerman, Kanada, dan Perancis, plus Uni Eropa- yang menjadi cikal-bakal G20, lahir 25 Maret 1973, sebagai tanggapan terhadap persoalan besar dalam perekonomian dunia, sebelum krisis minyak tahun 1973.

Krisis minyak dunia terjadi mulai Oktober 1973, setelah negara-negara Arab Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) disponsori Arab Saudi menjatuhkan embargo minyak. Akibat embargo harga minyak dunia naik 350 persen.

Sasaran embargo adalah AS, Kanada, Jepang, Belanda, dan Inggris karena mendukung Israel dalam Perang Yom Kippur (1973). Embargo juga diberlakukan terhadap Portugal, Afrika Selatan, dan Rhodesia.

Setelah krisis, G7 merasakan arti penting adanya kelompok itu. Mereka menjadikan G7 sebagai forum konsultasi anggota mengenai kebijakan ekonomi internasional.

Pada 25 September 1999, para menteri keuangan G7 dan gubernur bank sentral mengumumkan bahwa mereka memutuskan untuk “memperluas dialog mengenai isu-isu kebijakan ekonomi dan keuangan utama”.

Maka kata Jakob Vestergaard (DIIS Report, 2011), G20 lahir setelah krisis keuangan di Asia pada tahun 1999. Kelompok ini muncul sebagai forum informal para menteri keuangan dan gubernur bank sentral.

Kata Jakob Vestergaard, terbentuknya forum G20 pada 1999, mencerminkan pengakuan bahwa bobot negara-negara G7 dalam ekonomi global semakin menurun akibat pesatnya pertumbuhan ekonomi pasar negara berkembang yang dinamis (Wade R, 2009: 553).

Oleh karena itu, negara-negara G7 memutuskan untuk mengundang “rekan-rekan mereka dari sejumlah negara yang secara sistemik penting dari kawasan di seluruh dunia."

Dan, pertemuan pertama G20 diadakan beberapa bulan kemudian di Berlin. Komunike para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 dalam pertemuan itu, menegaskan kembali niat yang dinyatakan oleh G7 dalam pertemuan bulan September: G20 didirikan untuk menyediakan mekanisme baru untuk dialog informal dalam kerangka sistem kelembagaan Bretton Woods, untuk memperluas diskusi tentang isu-isu kebijakan ekonomi dan keuangan utama di antara ekonomi yang signifikan secara sistemik dan mempromosikan kerja sama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dunia yang stabil dan berkelanjutan yang menguntungkan semua (G20 2008: 63).

Arti Penting G20

Secara bersama-sama, negara-negara G20 menyumbang sekitar 80 persen dari output ekonomi global, hampir 75 persen dari ekspor global, dan sekitar 60 persen dari populasi dunia.

Maka G20, kumpulan dua puluh ekonomi terbesar di dunia, dipahami sebagai sebuah blok yang akan menyatukan ekonomi industri dan berkembang yang paling penting untuk membahas stabilitas ekonomi dan keuangan internasional (Council on foreign relations, 10 November 2022).

Dalam History of The G20 (14 November 2022) dijelaskan, pada awal pembentukannya, G20 berfokus pada upaya reformasi sistem keuangan global sebagai salah satu kunci dalam merespon krisis ekonomi global.

Sejalan dengan membaiknya kondisi ekonomi dunia, pada KTT G20 2009 di Pittsburgh, AS, dirumuskan tujuan G20 dengan lebih jelas, yaitu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkelanjutan, dan seimbang.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, KTT G20 di Cannes, Perancis (2011) menyepakati bahwa G20 memiliki tanggung jawab untuk “mengoordinasikan kebijakan mereka dan menghasilkan kesepakatan politik yang sangat penting dalam mengatasi tantangan akibat kondisi saling ketergantungan ekonomi global” (mengorganisasikan kebijakan mereka dan menghasilkan kesepakatan politik yang diperlukan untuk mengatasi tantangan saling ketergantungan ekonomi global).

Maka KTT tahunannya, berkembang menjadi forum utama untuk membahas ekonomi serta masalah global mendesak lainnya. Pertemuan bilateral di sela-sela KTT terkadang menghasilkan kesepakatan internasional yang besar.

Pertanyaan Utama

Pertanyaan utama yang harus dijawab dalam KTT saat ini adalah bagaimana negara-negara anggota G20 dapat sungguh-sungguh bekerja sama dan bekerja untuk bersama demi membangun masa depan yang lebih stabil.

Pertanyaan itu menjadi terasa semakin kuat mencari jawabannya di tengah krisis dunia dan perpecahan geopolitik saat ini.

Ketidakhadiran Presiden Putin, misalnya, menjadi salah satu tanda kuatnya persaingan dan perpecahan geopolitik, terlebih setelah perang Ukraina.

Tentu saja, ketidakhadiran pemimpin Rusia itu, tidak otomatis mengurangi bobot KTT. Ibarat masakan, ada rasa yang kurang, tapi tetap enak dan bergizi.

Apalagi hadir Presiden AS Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping. Kehadiran mereka, memberikan setitik harapan terwujud-nyatanya tema KTT “Recover Together, Recover Stronger.”

Kita katakan "setitik" harapan, karena kedua negara itu saat ini dalam tingkat hubungan yang tidak baik. Kedua negara sejak terlibat perang dagang (dimulai oleh Presiden Donald Trump).

Kata Pawel Paszak (Warsaw Institute, 5 Agustus 2021), Washington lah yang melihat pertumbuhan kuantitatif dan kualitatif kekuatan China sebagai tantangan utama abad ke-21. Maka AS memulai persaingan ekonomi yang tajam dengan Beijing.

Sebaliknya, China, melihat empat dekade sejak memulai apa yang disebut sebagai "reformasi pembukaan", khususnya tahun 2001 lalu, sebagai “window of opportunity” (jendela peluang) yang memungkinkan kemajuan keuangan yang besar. Kata pemimpin China, "Inilah saat dan momentum bagi kita."

Maka kata Pawel Paszak, perang dagang AS-China adalah alat untuk persaingan antara dua kekuatan besar –Amerika Serikat dan China– yang kemungkinan akan mendominasi paruh pertama abad ke-21.

Tujuan Washington adalah mempertahankan keunggulannya di sektor industri dan jasa teratas sambil menawarkan skema perlindungan yang lebih baik kepada bisnis domestik dan akses yang lebih simetris ke pasar China.

Persaingan ego dua kekuatan besar di kawasan Indo-Pasifik, telah pula menarik sekutu-sekutu AS di kawasan -Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura- ke dalam mandala kompetisi strategik dengan China.

Apalagi kalau ditambah sikap dan kebijakan AS atas Taiwan. Maka pemerintah Joe Biden pernah menyebut bahwa mengelola hubungan Amerika dengan Beijing merupakan "tes geopolitik terbesar abad ke-21."

Itulah sebabnya, pertemuan bilateral antara Joe Biden dan Xi Jinping, tidak hanya menarik tapi penting.

Tentu, Indonesia sebagai presidensi G20 sangat berharap bahwa hasil pertemuan mereka akan sungguh memberikan sumbangan berarti bagi terealisasinya “Recover Together, Recover Stronger."

Indonesia yang memegang presidensi pun, akan berusaha sekuat tenaga menjadikan hajatan KTT G20 ini, ingin memberikan sumbangan besar bagi "pemulihan perekonomian global dan kokohnya kembali kerja sama multilateral." Selain, tentu, ingin juga meningkatkan profil internasional Indonesia.

Keinginan semacam itu, tidak berlebihan. Sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di dunia -China, India, AS, dan Indonesia- Indonesia tidak hanya ingin lebih berperan di dunia, tetapi juga lebih diperhitungkan karena memberikan sumbangan besar bagi terciptanya perdamaian dunia.

Indonesia tidak hanya ingin berperan besar di Asia Tenggara (ASEAN) tetapi juga di dalam percaturan dunia yang lebih luas dan besar lagi.

Semoga lewat hajatan KTT G20 ini, peran serta dan sumbangan Indonesia bagi penciptaan harmoni dunia, stabilitas dan keberlanjutan perekonomian dunia, dan perdamaian dunia menjadi semakin nyata.

Dan, KTT G2O Bali, benar-benar mampu menumbuhkan kesadaran sejati para pemimpin dunia akan arti pentingnya kerja sama dan bekerja bersama untuk merawat dunia ini.

 


Sumber : Kompas TV

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.


BERITA LAINNYA


Close Ads x