Kompas TV bisnis kebijakan

Subsidi Energi Tembus Rp502 T, Jokowi: Enggak Ada Negara Seberani Kita

Selasa, 16 Agustus 2022 | 07:06 WIB
subsidi-energi-tembus-rp502-t-jokowi-enggak-ada-negara-seberani-kita
Presiden Jokowi dalam pelantikan perwira TNI-Polri 2022 di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (14/7/2022). (Sumber: Tangkapan Layar Youtube Setpres/ninuk)
Penulis : Dina Karina | Editor : Iman Firdaus

JAKARTA, KOMPAS.TV- Presiden Joko Widodo menyatakan, pemerintah mampu memberikan subsidi energi hingga Rp502 triliun karena memperoleh tambahan pendapatan dari kenaikan harga komoditas.

Jika tidak ada tambahan pemasukan dari booming komoditas, Jokowi menyebut Indonesia mungkin tidak kuat menghadapi kenaikan harga minyak dan gas.

Hal itu ia sampaikan, dalam wawancara khususu oleh Pimpinan Redaksi Harian Kompas, Sutta Dharmasaputra di ruang Veranda Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (14/8/2022), yang diterbitkan hari ini, Selasa (16/8/2022).

Baca Juga: Siap-Siap BBM Mau Naik, Pemerintah Lagi Hitung Angkanya

"Sekarang, kayak urusan energi saja, kita harus menyubsidi Rp 502 triliun. Untung kita memiliki pendapatan dari kenaikan (harga) komoditas. Kalau ndak, ndak akan kita kuat menghadapi itu," kata Jokowi dikutip dari Kompas.id, Selasa (16/8/2022).

"Pertalite (per liter) masih kita jual Rp 7.650, harga yang benar, keekonomian itu Rp 17.100. Solar masih dijual Rp 5.150, padahal harga sebenarnya Rp 19.000. Pertamax juga harusnya Rp 17.200 kita jual Rp 12.500," tambahnya.

Presiden Jokowi menyampaikan, tidak ada negara yang memberikan subsidi energi hingga lebih dari Rp500 triliun. Namun pemerintah Indonesia melakukannya, karena ingin menjaga daya beli masyarakat dan membuat ekonomi tetap tumbuh.

Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Turun Jadi Rp5.883,8 T Per Juni 2022

"Ini subsidi. Enggak ada negara seberani kita menyubsidi sampai Rp 502 triliun. Itu kalau di-(konversi ke) miliar dollar AS kira-kira 35 miliar dollar AS untuk subsidi. Inilah dukungan strategi kita untuk menahan agar tak terjadi perlambatan ekonomi, kenaikan inflasi yang sangat drastis seperti negara lainnya," tutur Jokowi.

Namun, Presiden Jokowi menyadari ketahanan energi sangat perlu dimiliki Indonesia, agar bisa bertahan melewati krisis energi.

"Di G20 kita bertemu dengan lembaga-lembaga internasional. Mereka menyatakan akan terjadi krisis energi, akan terjadi krisis pangan. Mereka sudah menyatakan bolak-balik. Jadi, negara yang akan menang adalah negara yang bisa menyiapkan energinya, dan pangannya," ungkapnya.


Sumber : Kompas.id

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.


BERITA LAINNYA


Close Ads x