Kompas TV nasional peristiwa

Kepala BPKM: Siap-Siap Harga BBM Naik Lagi

Jumat, 12 Agustus 2022 | 19:18 WIB
kepala-bpkm-siap-siap-harga-bbm-naik-lagi
Foto ilustrasi. Wajib Daftar kalau mau menjadi konsumen yang berhak menerima BBM Bersubsidi. Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan harga bahan bakar minyak (BBM) akan naik lagi. (Sumber: Pertamina)

Penulis : Switzy Sabandar | Editor : Gading Persada

JAKARTA, KOMPAS.TV- Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan harga bahan bakar minyak (BBM) akan naik lagi.

Kendati demikian ia tidak bisa memastikan kapan kepanikan BBM bakal terjadi.

Dalam konferensi pers mengenai Perkembangan Pencabutan Izin Usaha Pertambangan, Bahlil meminta kepada wartawan untuk menyampaikan kepada rakyat untuk mempersiapkan diri jika terjadi kenbaikan harga BBM.

“Harga BBM naik tersebut berdasarkan perkembangan harga minyak dunia saat ini yang melonjak tinggi sehingga memengaruhi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” ujarnya, seperti yang dikutip dari Kompas.com, Jumat (12/8/2022).

Baca Juga: Harga BBM Naik, Presiden Bolsonaro Pecat Menteri Energi Brasil

Ia membandingkan harga minyak berdasarkan APBN berkisar 63 dolar AS sampai 70 dolar AS per barel, sementara harga minyak dunia rata-rata dari Januari sampai dengan bulan Juli 2022 mencapai 105 dolar AS per barel.

“Jika harga minyak per barel di atas 100 dolar AS, 105 dolar AS, kemudian dengan asumsi kurs dollar APBN itu Rp14.500 tapi sekarang rata-rata Rp14.750, dan kuota kita dari 23 juta kiloliter menjadi 29 juta maka ada terjadi penambahan subsidi," ucap Bahil.

Artinya, APBN bakal menanggung subsidi BBM hingga Rp600 triliun.

Justru inilah yang menjadi kekhawatiran pemerintah dengan beban APBN yang begitu besar menanggung biaya subsidi BBM.

"Hitung-hitungan kami belum final ya, hitung-hitungan kami ini bisa di Rp500 triliun sampai Rp600 triliun. Sampai kapan APBN kita akan kuat menghadapi subsidi yang lebih tinggi? Karena Rp500 triliun sampai Rp600 triliun itu sama dengan 25 persen total pendapatan APBN kita dipakai untuk subsidi dan ini menurut saya agak-agak enggak sehat," kata Bahlil.

Dia juga membandingkan dengan warga Papua yang sudah terbiasa dengan harga minyak yang tinggi. Sebab yang terpenting minyak tersebut tersedia alias tidak langka.

Ia berharap APBN masih dalam kondisi sehat atau mampu menanggung beban biaya fiskal negara.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani meminta PT Pertamina (Persero) untuk mengendalikan BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar agar tidak semakin membebani APBN.


Baca Juga: Lebanon Krisis Ekonomi, Harga BBM Naik 10 Kali Lipat

Dalam konferensi pers APBN Kita, Sri Mulyani mengatakan, saat ini pemerintah telah meggelontorkan subsidi energi termasuk BBM dan listrik sebesar Rp 502 triliun. Hal ini mengingat kuota BBM bersubsidi yang semakin menipis sehingga memerlukan adanya penambahan kuota.

Nilai anggaran ini bisa membengkak jika Pertamina tidak mengendalikan penyaluran BBM bersubsidi.


Sumber : Kompas TV

REKOMENDASI UNTUK ANDA

Powered by



Video Pilihan

BERITA LAINNYA


Close Ads x