Kompas TV regional berita daerah

Tiru Cara Warga Bantul Sulap Sampah Jadi Minyak Tanah, Datangkan Omzet hingga Rp6 Juta per Bulan

Rabu, 25 Mei 2022 | 17:17 WIB
tiru-cara-warga-bantul-sulap-sampah-jadi-minyak-tanah-datangkan-omzet-hingga-rp6-juta-per-bulan
Metode ubah sampah jadi minyak tanah ini memakai alat pirolisis yang dikelola Bank Sampah Gerbang Pilah di Bantul. (Sumber: Switzy Sabandar/KOMPAS.TV)

Penulis : Switzy Sabandar | Editor : Gading Persada

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV-  Warga Siten, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul berhasil mengatasi persoalan sampah dengan mengubahnya menjadi minyak tanah.

Metode ubah sampah jadi minyak tanah ini memakai alat pirolisis yang dikelola Bank Sampah Gerbang Pilah.

Pirolisis adalah proses dekomposisi kimia dengan pemanasan dan menghasilkan cairan. Cairan itu bisa jadi bahan bakar untuk kompor minyak tanah.

Menurut Ketua Bank Sampah Gerbang Pilah Suratno, sampah plastik dipanaskan sampai meleleh, mencair, dan akhirnya menguap. Setelah itu, pendinginan dilakukan dan minyak menetes perlahan.

“Alat ini bantuan dari salah satu kampus di Yogyakarta sejak 2019, tetapi karena Covid-19, penyulingan baru aktif tahun ini,” ujar Suratno, Rabu (25/5/2022).

Baca Juga: Puluhan Anak Bersama dengan Lembaga Save The Children, Gelar Aksi Bersih Sampah di Pantai Mapaga

Ia memaparkan, proses pirolisis berlangsung selama tujuh jam dengan suhu di atas 300 derajat Celsius.

Alat ini bisa membakar 20 kilogram sampah plastik, sehingga penyulingan rata-rata dilakukan seminggu dua kali.

Dari 20 kilogram sampah plastik ini bisa menghasilkan 10 sampai 12 liter minyak. Estimasi produksinya dalam seminggu bisa menghasilkan 20 liter minyak atau 80 liter minyak tanah dalam sebulan.

“Jika dijual satu liter Rp10.000, bisa dapat Rp800.000,” ucapnya.

Suratno menilai, cara ini efektif mengurangi sampah plastik di desanya sekaligus membantu perekonomian para anggota. Selain digunakan sendiri, minyak hasil penyulingan juga laku dijual.

Baca Juga: Pantai Selatan di Lumajang Tercemar Sampah Banjir Lahar Hujan Gunung Semeru

Ia mengaku selama ini hampir tidak pernah membuang sampah ke TPA Piyungan Bantul karena selalu habis diolah. Omzet bank sampah desa itu bisa mencapai Rp5 sampai Rp6 juta per bulan.


Sumber : Kompas TV

REKOMENDASI UNTUK ANDA

Powered by



Video Pilihan

BERITA LAINNYA


Close Ads x