Kompas TV regional wawancara

Semeru Bukanlah Erupsi, Melainkan Peristiwa Guguran Awan Panas! Begini Penjelasannya

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:40 WIB

Penulis : Shinta Milenia

KOMPAS.TV – Diketahui pada Sabtu (4/12/2021) sore, terjadi semburan awan panas guguran Semeru yang menerjang sejumlah desa di Lumajang, Jawa Timur.

Menurut Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Unpad, Nana Sulaksana dalam Breaking News Kompas TV, beliau menyampaikan bahwa peristiwa bencana Semeru merupakan proses gugurnya batuan yang merupakan kubah di puncak Gunung Semeru.

Guguran tersebut akibat dari ketidakstabilan dari kubah.

Penyebab dari ketidakstabilan kubah ini ada 2 hal, yang pertama bisa jadi adanya supply atau material baru dan yang kedua dipicu oleh cuaca ekstrim.

Dalam hal ini curah hujan yang tinggi dan terjadi secara terus-menerus.

Baca Juga: Temuan Fenomena Aliran Sungai Baru di Wilayah Dusun Kamar Kajang Pasca Bencana Semeru

Nana Sulaksana menyebut peristiwa ini bukanlah erupsi, melainkan guguran awan panas.

“Saya menyebutnya guguran awan panas, lebih tepat. Karena itu yang dominan menyebabkan bencana yang terjadi di sekitar Gunung Semeru itu.”

Adanya material yang meluncur secara tiba-tiba dan material yang di dalam kubah tersebut masih panas, maka dari itu bisa disebut guguran kubah lava.

Hal tersebut bisa dibuktikan dengan adanya aliran pekat lahar yang melalui sungai.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa air yang begitu banyak dari atas menyebabkan meluapnya material, mulai dari abu, pasir, dan sebagainya sampai ukuran bongkahan, sehingga dapat menyebabkan adanya banjir lahar.

Sementara Banyak dari masyarakat sekitar Gunung Semeru yang tidak siap akan adanya bencana Semeru ini.

Sehingga banyak sekali korban jiwa dan kerugian akibat bencana Gunung Semeru.

Baca Juga: Peduli Korban Bencana Semeru, Pedagang Pasar Legi Solo Kumpulkan Sayur Mayur dan Bumbu Dapur

Sumber : Kompas TV


BERITA LAINNYA


Close Ads x
NEWSTICKER
08:24
LINTASAN BALAP MOBIL TERTUA DI JERMAN, SIRKUIT F1 NURBURGRING, JADI PUSAT LOGISTIK BANTUAN BANJIR   MANTAN ANGGOTA DPRD KERINCI, JAMBI, YUSUF SAGORO, DITANGKAP SETELAH 13 TAHUN JADI BURONAN KASUS KORUPSI   SEBANYAK 23,8 TON IKAN NILA DI KERAMBA JARING APUNG DANAU BATUR, BANGLI, BALI, MATI AKIBAT KERACUNAN BELERANG   TAMAN NASIONAL ALAS PURWO DI BANYUWANGI, JATIM, PERPANJANG MASA PENUTUPANNYA HINGGA 25 JULI 2021   PENUTUPAN 8 RUAS JALAN UTAMA DI SOLO DIPERPANJANG HINGGA 25 JULI 2021 SEIRING PENERAPAN PPKM   PEMKAB PURBALINGGA UBAH RSUD GOETENG TAROENADIBRATA JADI RS KHUSUS COVID-19, DAYA TAMPUNG MENCAPAI 232 PASIEN   MENKO MARVES LUHUT BINSAR PANDJAITAN OPTIMISTIS KEKEBALAN KELOMPOK BISA TERCAPAI PADA AKHIR TAHUN INI   PEMKOT BEKASI TUNGGAK INSENTIF TENAGA KESEHATAN DI DINKES YANG TANGANI COVID-19 PERIODE JANUARI-MEI 2021   SEBANYAK 22 KG ORGAN HEWAN KURBAN TAK LAYAK KONSUMSI DI JAKARTA PUSAT DIMUSNAHKAN PETUGAS   KREMATORIUM UNTUK JENAZAH COVID-19 DI TPU TEGAL ALUR, JAKBAR, DITARGETKAN BISA DIGUNAKAN PADA JUMAT, 23 JULI 2021   SEKJEN DPR INDRA ISKANDAR SEBUT 511 ORANG DI DPR POSITIF TERINFEKSI COVID-19, 346 DI ANTARNYA TELAH NEGATIF   RANGKAP JABATAN SEBAGAI KOMISARIS DI SALAH SATU PERUSAHAAN BUMN, REKTOR UI ARI KUNCORO PUNYA HARTA KEKAYAAN RP 52,4 M   TEMUKAN MALAADMINISTRASI PROSES TWK, OMBUDSMAN RI: KPK HARUS KOREKSI PROSES ALIH STATUS PEGAWAI KPK   KAPOLRI JENDERAL LISTYO SIGIT PRABOWO MINTA JAJARANNYA BANTU PERCEPAT PENYALURAN BANSOS SELAMA PANDEMI COVID-19