Kompas TV regional kesehatan

Ini Penyebab Suplemen Protein Tak Diperlukan Anak

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:24 WIB
ini-penyebab-suplemen-protein-tak-diperlukan-anak
Menurut spesialis nutrisi olahraga Diana Schnee, MS, mengonsumsi lebih banyak protein, terutama dari suplemen belum tentu sehat. (Sumber: pixabay.com)

Penulis : Kurniawan Eka Mulyana | Editor : Iman Firdaus

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV - Protein merupakan zat yang  membantu membentuk otot, menghasilkan hormon, memperkuat kulit, tulang dan mengangkut nutrisi.

Protein sangat penting untuk tubuh, bahkan orang mungkin berpikir bahwa mengonsumsi lebih banyak protein akan menjadikan tubuh lebih kuat.

Namun, dilansir Cleveland Clinic, menurut spesialis nutrisi olahraga Diana Schnee, MS, mengonsumsi lebih banyak protein, terutama dari suplemen belum tentu sehat.

“Mengkonsumsi protein ekstra, terutama dari suplemen protein,  belum tentu sehat atau bermanfaat,” kata dia.

“Dan itu terutama berlaku untuk anak-anak. Faktanya, asupan protein yang berlebihan tidak menyebabkan lebih banyak perkembangan otot, tetapi malah dapat memberi tekanan pada hati dan ginjal mereka dan meningkatkan risiko dehidrasi.”

“Di sebagian besar negara Barat, anak-anak sudah mendapatkan dua hingga tiga kali protein yang mereka butuhkan setiap hari,” katanya.

Mengonsumsi suplemen protein atau menambahkan bubuk protein ke makanan, shake, atau smoothie cukup populer untuk anak-anak dan remaja yang sedang tumbuh.

Tren ini semakin jelas terlihat jika anak Anda adalah seorang atlet, terutama jika mereka ingin menjadi lebih besar dan lebih kuat.

Menurut Food and Nutrition Board, Institute of Medicine, National Academy of Sciences, sepuluh hingga 30 persen asupan kalori harus berasal dari protein.

Sementara, untuk anak-anak yang lebih kecil, kebutuhan protein dihitung berdasarkan usia.  Anak-anak usia 4 hingga 9 tahun membutuhkan 19 gram protein setiap hari. Sementara anak yang berusia antara 9 dan 13 tahun membutuhkan 34 gram.

Baca Juga: 5 Makanan Berprotein Ini Wajib Dikonsumsi untuk Kamu yang Baru Sembuh dari Covid-19

Untuk remaja, usia 14 hingga 18 tahun, bervariasi berdasarkan jenis kelamin. Anak laki-laki membutuhkan 52 gram dan anak perempuan membutuhkan 46 gram.

Secara keseluruhan, anak-anak harus mendapatkan cukup protein setiap hari untuk kebutuhan dasar dan atletik, khususnya jika mereka makan dua porsi protein tanpa lemak, seperti daging sapi tanpa lemak, babi, unggas, ikan, atau alternatif daging.

Apa pun tambahan dari suplemen protein kemungkinan melebihi kebutuhan sehari-hari mereka dan itu tidak diperlukan.

“Untuk atlet anak, fokusnya harus lebih pada asupan makanan utuh yang memadai daripada suplemen,” kata Schnee.

“Mereka memang memiliki kebutuhan protein yang sedikit lebih tinggi, tetapi hanya atlet elit yang harus mempertimbangkan untuk menambahkan suplemen protein ke dalam makanan mereka, dan hanya jika mereka berusia lebih dari 18 tahun.”

Suplemen protein justru dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang, berikut beberapa di antaranya:

- Pertambahan Berat Badan.

Kelebihan protein berarti kelebihan kalori. Jika seorang anak tidak dapat membakar kalori, tubuh menyimpannya sebagai lemak.

- Kerusakan Organ.

Kadar protein yang tinggi dapat menyebabkan batu ginjal dan membuat ginjal bekerja lebih keras untuk menyaring produk limbah.



Sumber : Kompas TV

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

REKOMENDASI UNTUK ANDA

Powered by



Video Pilihan

BERITA LAINNYA


Close Ads x