Kompas TV nasional peristiwa

Masalah Kemampuan Penyidik Disebut Bikin Dugaan Pemerkosaan Anak di Luwu Timur Sempat Berhenti

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:49 WIB
masalah-kemampuan-penyidik-disebut-bikin-dugaan-pemerkosaan-anak-di-luwu-timur-sempat-berhenti
Ketua Harian Komisi Polisi Nasional (Kompolnas) Benny Mammoto sempat diberhentikannya kasus dugaan pemerkosaan tiga anak oleh ayah kandung di Luwu Timur disebabkan ketidaksamaan kompetensi penyidik di daerah. (Sumber: Kompas TV)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyatakan sempat diberhentikannya kasus dugaan pemerkosaan tiga anak oleh ayah kandung di Luwu Timur disebabkan ketidaksamaan kompetensi penyidik di daerah. Oleh karena itu, kini penyelesaiannya dibantu oleh Mabes Polri.

Menurut Ketua Harian Kompolnas Benny Mammoto, bimbingan teknis tersebut dilakukan karena pihaknya memahami adanya ketimpangan perihal kompetensi dan pengetahuan yang dimiliki para penyidik di daerah.

Terlebih, kompetensi dan pengetahuan terkait kasus-kasus spesifik seperti kejahatan seksual yang kasusnya belum pernah ditangani.

"Kita semua tahu bahwa kompetensi yang dimiliki teman-teman yang didaerah tidak sama semuanya. Ada yang perlu bimbingan teknis ada yang perlu penambahan pengetahuan. Karena kasus-kasus yang spesifik itu mereka mungkin belum pernah menangani," kata Benny Mammoto kepada Kompas TV dalam program "Dialog Sapa Indonesia Pagi", Jumat (15/10/2021).

Baca Juga: Polisi Buka Penyelidikan Baru Kasus Dugaan Pemerkosaan 3 Anak oleh Ayah Kandung di Luwu Timur

Benny juga menjelaskan, nantinya melalui bimbingan teknis yang dilakukan para penyidik di daerah khususnya Luwu Timur bisa mendapat pandangan baru. Terutama untuk melihat celah yang bisa didalami dan dikembangkan.

"Melakukan bimbingan teknis kepada penyidik di Luwu Timur kemudian dari situ akan diketahui celah mana yang bisa didalami, bisa dikembangkan dan sebagainya," kata Benny.

Sebelumnya, Asosiasi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) APIK meminta kepolisian memperdalam alat bukti yang telah ada dalam kasus dugaan kekerasan seksual yang dilakukan ayah kandung di Luwu Timur.

Mengingat dalam kasus ini, sudah terdapat diagnosa dokter Puskesmas Malili yang menyatakan bahwa terdapat kerusakan pada organ vital korban (anus dan vagina). 

Demikian Koordinator Advokasi Kebijakan Pengurus Asosiasi LBH APIK Indonesia, Ratna Batara Munti dalam keterangan tertulisnya, Rabu (13/10/2021).

Penulis : Nurul Fitriana | Editor : Desy Afrianti

Sumber : Kompas TV



BERITA LAINNYA


Close Ads x
NEWSTICKER
16:21
LINTASAN BALAP MOBIL TERTUA DI JERMAN, SIRKUIT F1 NURBURGRING, JADI PUSAT LOGISTIK BANTUAN BANJIR   MANTAN ANGGOTA DPRD KERINCI, JAMBI, YUSUF SAGORO, DITANGKAP SETELAH 13 TAHUN JADI BURONAN KASUS KORUPSI   SEBANYAK 23,8 TON IKAN NILA DI KERAMBA JARING APUNG DANAU BATUR, BANGLI, BALI, MATI AKIBAT KERACUNAN BELERANG   TAMAN NASIONAL ALAS PURWO DI BANYUWANGI, JATIM, PERPANJANG MASA PENUTUPANNYA HINGGA 25 JULI 2021   PENUTUPAN 8 RUAS JALAN UTAMA DI SOLO DIPERPANJANG HINGGA 25 JULI 2021 SEIRING PENERAPAN PPKM   PEMKAB PURBALINGGA UBAH RSUD GOETENG TAROENADIBRATA JADI RS KHUSUS COVID-19, DAYA TAMPUNG MENCAPAI 232 PASIEN   MENKO MARVES LUHUT BINSAR PANDJAITAN OPTIMISTIS KEKEBALAN KELOMPOK BISA TERCAPAI PADA AKHIR TAHUN INI   PEMKOT BEKASI TUNGGAK INSENTIF TENAGA KESEHATAN DI DINKES YANG TANGANI COVID-19 PERIODE JANUARI-MEI 2021   SEBANYAK 22 KG ORGAN HEWAN KURBAN TAK LAYAK KONSUMSI DI JAKARTA PUSAT DIMUSNAHKAN PETUGAS   KREMATORIUM UNTUK JENAZAH COVID-19 DI TPU TEGAL ALUR, JAKBAR, DITARGETKAN BISA DIGUNAKAN PADA JUMAT, 23 JULI 2021   SEKJEN DPR INDRA ISKANDAR SEBUT 511 ORANG DI DPR POSITIF TERINFEKSI COVID-19, 346 DI ANTARNYA TELAH NEGATIF   RANGKAP JABATAN SEBAGAI KOMISARIS DI SALAH SATU PERUSAHAAN BUMN, REKTOR UI ARI KUNCORO PUNYA HARTA KEKAYAAN RP 52,4 M   TEMUKAN MALAADMINISTRASI PROSES TWK, OMBUDSMAN RI: KPK HARUS KOREKSI PROSES ALIH STATUS PEGAWAI KPK   KAPOLRI JENDERAL LISTYO SIGIT PRABOWO MINTA JAJARANNYA BANTU PERCEPAT PENYALURAN BANSOS SELAMA PANDEMI COVID-19