Kompas TV bbc bbc indonesia

Selain Covid-19, Dapatkah Pandemi Lainnya Terjadi di Masa Depan?

Rabu, 23 Desember 2020 | 15:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.TV - Pandemi COVID-19 bagaimanapun juga akan segera berakhir. Meskipun beberapa negara mengalami penurunan jumlah infeksi baru, negara lain masih mengalami peningkatan kasus.

Banyak orang khawatir mungkin ada gelombang kedua atau ketiga. Tetapi bahkan jika kita menemukan cara untuk mengendalikan penyakit ini, dapatkah pandemi lain terjadi di masa depan?

Penyakit yang menyebar ke wilayah, populasi atau negara dan benua tertentu bukanlah hal baru. Flu Spanyol melanda seluruh dunia antara tahun 1918 dan 1920 menewaskan sebanyak 50 juta orang.

Belakangan ini, abad ke-21 juga telah terjadi beberapa wabah yang serius. SARS, Flu Babi, Ebola dan Zika dan menyebabkan gangguan pada kehidupan sehari-hari.

Ada beberapa alasan mengapa wabah ini terjadi dan tanpa membuat perubahan, mungkin sulit untuk menghentikan epidemi dan pandemi di masa depan.

Beberapa negara yang pernah mengalami epidemi serius sebelumnya merespons pandemi virus Corona jauh lebih baik daripada wabah penyakit lainnya.

Korea Selatan belajar dari berjangkitnya virus Corona baru yang sangat mematikan yang disebut MERS pada tahun 2015, dan kali ini lebih siap dengan pengujian diagnostik dan pelacakan kasus.

Negara-negara di Afrika Tengah bagian Barat telah memiliki pengalaman yang luas dalam menangani Ebola dalam beberapa tahun terakhir, yang telah memberi mereka pemahaman yang baik tentang epidemi dibandingkan beberapa negara yang lebih kaya, dan memungkinkan mereka untuk merespons dengan cepat dan tegas terhadap penyakit baru ini.

Pemulihan dari krisis langsung tetap menjadi fokus di seluruh dunia, tetapi jika kita dapat belajar dari peristiwa mengerikan ini, efek pandemi di masa depan dapat diminimalkan.

Penulis : Sadryna Evanalia

Sumber : Kompas TV


BERITA LAINNYA


Close Ads x
NEWSTICKER
19:23
LINTASAN BALAP MOBIL TERTUA DI JERMAN, SIRKUIT F1 NURBURGRING, JADI PUSAT LOGISTIK BANTUAN BANJIR   MANTAN ANGGOTA DPRD KERINCI, JAMBI, YUSUF SAGORO, DITANGKAP SETELAH 13 TAHUN JADI BURONAN KASUS KORUPSI   SEBANYAK 23,8 TON IKAN NILA DI KERAMBA JARING APUNG DANAU BATUR, BANGLI, BALI, MATI AKIBAT KERACUNAN BELERANG   TAMAN NASIONAL ALAS PURWO DI BANYUWANGI, JATIM, PERPANJANG MASA PENUTUPANNYA HINGGA 25 JULI 2021   PENUTUPAN 8 RUAS JALAN UTAMA DI SOLO DIPERPANJANG HINGGA 25 JULI 2021 SEIRING PENERAPAN PPKM   PEMKAB PURBALINGGA UBAH RSUD GOETENG TAROENADIBRATA JADI RS KHUSUS COVID-19, DAYA TAMPUNG MENCAPAI 232 PASIEN   MENKO MARVES LUHUT BINSAR PANDJAITAN OPTIMISTIS KEKEBALAN KELOMPOK BISA TERCAPAI PADA AKHIR TAHUN INI   PEMKOT BEKASI TUNGGAK INSENTIF TENAGA KESEHATAN DI DINKES YANG TANGANI COVID-19 PERIODE JANUARI-MEI 2021   SEBANYAK 22 KG ORGAN HEWAN KURBAN TAK LAYAK KONSUMSI DI JAKARTA PUSAT DIMUSNAHKAN PETUGAS   KREMATORIUM UNTUK JENAZAH COVID-19 DI TPU TEGAL ALUR, JAKBAR, DITARGETKAN BISA DIGUNAKAN PADA JUMAT, 23 JULI 2021   SEKJEN DPR INDRA ISKANDAR SEBUT 511 ORANG DI DPR POSITIF TERINFEKSI COVID-19, 346 DI ANTARNYA TELAH NEGATIF   RANGKAP JABATAN SEBAGAI KOMISARIS DI SALAH SATU PERUSAHAAN BUMN, REKTOR UI ARI KUNCORO PUNYA HARTA KEKAYAAN RP 52,4 M   TEMUKAN MALAADMINISTRASI PROSES TWK, OMBUDSMAN RI: KPK HARUS KOREKSI PROSES ALIH STATUS PEGAWAI KPK   KAPOLRI JENDERAL LISTYO SIGIT PRABOWO MINTA JAJARANNYA BANTU PERCEPAT PENYALURAN BANSOS SELAMA PANDEMI COVID-19