Kompas TV regional berita daerah

Belajar Mitigasi Erupsi Merapi dari Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Senin, 30 November 2020 | 15:40 WIB
belajar-mitigasi-erupsi-merapi-dari-sejarah-kerajaan-mataram-kuno
Erupsi Gunung Merapi, abu vulkanik setinggi 6.000 meter, pada Minggu (21/6/2020). (Sumber: Twitter @BPPTKG)

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV- Aktivitas yang menunjukkan indikasi erupsi Merapi akhir-akhir ini membuat banyak pihak gencar melakukan persiapan. Menurut Kepala Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM Agung Harijoko sejarah erupsi Merapi tidak boleh diabaikan untuk mengetahui upaya mitigasi yang tepat.

Ia mengatakan berdasarkan sejarah erupsi Merapi, gunung ini pernah erupsi eksplosif dengan tipe sub plinian sampai plinian. Erupsi besar terjadi pada 2010 dan 1872.

“Jangka pengulangannya sekitar 100 tahun,” ujarnya dalam Webinar UGM-Kagama bertajuk “Erupsi Merapi, Apa yang Bisa Dilakukan”, Minggu (29/11/2020).

Baca Juga: Prediksi Erupsi Merapi Pasca Penetapan Status Siaga

Ia bercerita berdasarkan pengalaman Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-8 dan ke-9, erupsi Merapi membuat mereka tidak mampu menyelamatkan infrastruktur. Akibatnya, bangunan candi pun sebagian tertutup oleh material bekas erupsi Merapi.

Penduduk kala itu pun memilih untuk mengungsi ke daerah Jawa Timur untuk menyelematkan diri. Oleh karena itu, berkaca pada pengalaman masa lalu, Agung menilai perencanaan pembangunan saat ini perlu memperhatikan aspek kebencanaan dengan memahami sejarah erupsi Merapi dan daerah mana saja yang terancam dampak erupsi Merapi.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida memprediksi erupsi Merapi kali ini tidak sebesar pada erupsi 2010.

Penulis : Switzy Sabandar


KOMENTAR

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!


BERITA LAINNYA


Close Ads x
NEWSTICKER
08:36
KRI SOEHARSO TURUNKAN MUATAN TRAFO DAN TIANG PLN UNTUK PERBAIKI ALIRAN LISTRIK YANG RUSAK AKIBAT GEMPA DI SULBAR   RELIEF BERUSIA 55 TAHUN AKAN DIPAMERKAN SAAT PERESMIAN GEDUNG SARINAH JAKARTA PADA 10 NOVEMBER 2021   MULAI 20 JANUARI 2021, JALAN KATEDRAL DI SAWAH BESAR, JAKPUS, DITUTUP IMBAS PROYEK TEROWONGAN ISTIQLAL-KATEDRAL   DINKES DKI: ISOLASI MANDIRI DI RUMAH SERING TIMBULKAN KLASTER KELUARGA   WAPRES MA'RUF AMIN IMBAU SEMUA PIHAK DUKUNG PELAKSANAAN GERAKAN NASIONAL DONOR PLASMA KONVALESEN BAGI PASIEN KORONA   KETUA PMI JUSUF KALLA AJAK PENYINTAS COVID-19 DONOR DARAH PLASMA KONVALESEN GUNA KURANGI PENYEBARAN KORONA   PT LIGA INDONESIA BARU MASIH TUNGGU IZIN KEPOLISIAN AGAR KOMPETISI LIGA 1 2021 DAPAT BERGULIR   PT LIGA INDONESIA BARU (LIB) MEMPROYEKSIKAN MENGGELAR LIGA 1 2021 PADA MARET MENDATANG   WHO: DUNIA DI AMBANG "BENCANA MORAL" DALAM DISTRIBUSI VAKSIN COVID-19   MASUK ZONA MERAH KORONA, PEMKAB PONOROGO AKAN MENERAPKAN PEMBERLAKUAN PEMBATASAN KEGIATAN MASYARAKAT   PEMKAB BANGKALAN, JATIM, MENUTUP 11 KANTOR ORGANISASI PERANGKAT DAERAH KARENA TEMUAN ASN POSITIF KORONA   WALI KOTA BOGOR BIMA ARYA BAKAL BERI SANKSI KE RS UMMI ATAS KASUS KONTROVERSI TES USAP RIZIEQ SHIHAB   DIPERIKSA KPK, GUBERNUR BENGKULU BANTAH TERLIBAT KASUS SUAP EDHY PRABOWO SOAL IZIN EKSPOR BENUR   KEMENTAN SEBUT KENAIKAN HARGA PUPUK SUBSIDI UNTUK TUTUPI KEKURANGAN ANGGARAN 2021