Pencurian Ikan di Natuna Utara Semakin Menggila

Hukum | Jumat, 30 April 2021 | 13:06 WIB
KRI Usman Harun-359 saat menangkap dua Kapal Ikan Asing asal Vietnam yang melakukan pencurian ikan atau illegal fishing di Laut Natuna Utara, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau (Kepri), Sabtu (19/9/2020). (Sumber: Dokumen TNI AL)

JAKARTA, KOMPAS.TV -  Kasus pencurian ikan oleh kapal-kapal ikan asing di Laut Natuna Utara semakin marak dengan modus yang terus berkembang. Parahnya lagi kapasitas kapal patroli pengawas masih terbatas.

Pencurian ikan ilegal tersebut salah satunya memanfaatkan wilayah perbatasan yang masih menjadi sengketa dengan negara lain. Hal tersebut dikemukakan dalam Konferensi Pers "Intrusi Kapal Ikan Asing Vietnam Pelaku IUU Fishing: Laut Natuna Utara dalam Kondisi Kritis", Kamis (29/4/2021) kemarin,

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (PSDKP-KKP) Suharta menyampaikan, pencurian ikan oleh kapal-kapal asing masih terus marak, terutama di daerah penangkapan ikan terbaik, seperti Laut Natuna Utara dan Laut Arafura,  Jumat (30/4/2021).

“IUU Fishing seperti tidak ada habis-habisnya. Meskipun kapal ikan asing ilegal ditangkap setiap tahun dan sudah ada koordinasi secara regional, kasus pencurian ikan oleh kapal asing masih terus ada,” ujar Suharta lewat konferensi pers yang diselenggarakan Indonesian Ocean Justice Initiative (IOJI) tersebut.

Baca Juga: Penangkapan Kapal Ikan Vietnam Diwarnai Aksi Kejar-kejaran di Laut Natuna Utara

Adapun, tim patroli gabungan aparat penegak hukum, antara lain PSDKP-KKP, TNI, Badan Keamanan Laut (Bakamla), dan Polair, terus melakukan pengawasan di Laut Natuna Utara  dengan operasional tujuh kapal pengawas secara bergantian.

Namun, praktik penangkapan ikan ilegal tidak dilaporkan, dan tidak diatur (IUU Fishing) diduga masih marak, melebihi kemampuan patroli pengawasan.

1
2
3



TERBARU